Pages

Senin, 20 Oktober 2014

Membaca Tidak Kreatif

Saya bersyukur akhir-akhir ini bisa menyempatkan (baca: memaksakan) diri membaca. Meski hanya sambil lalu--saya membaca di kakus--saya tetap bangga dengan kemajuan ini. Tak sengaja banyak ide cerita muncul dari kegiatan ini.

Selain buku, saya juga sempatkan untuk membaca blog beberapa penulis Indonesia. Yah, hanya untuk melihat sekaligus memancing hasrat untuk menjadi seperti mereka. Penulis yang blognya sering saya baca adalah blog Eka Kurniawan. Menurut saya, Eka adalah penulis ideal untuk saat ini. Dua novelnya, Cantik itu Luka dan Lelaki Harimau, tahun depan akan diterbitkan ke dalam bahasa Inggris, Italia, dan Prancis. Kebanggaan tersendiri untuk Indonesia.

Saya juga kembali gila dalam belanja buku-buku bagus di lapak-lapak Facebook. Namun, saya juga mengimbanginya dengan membuang beberapa buku yang kata kebanyakan orang tmemiliki kualitas terjemahan yang buruk.

Buku yang saya baca, Lapar Knut Hamsun. Dari beberapa halaman yang sudah saya baca, sepertinya ada yang salah dengan proses proofreading-nya. Ada banyak sekali typo semacam kurang tanda titik dan petik. Dan kelihatannya tidak diedit secara serius. Obor, selaku penerbit, sepertinya langsung mencetak hasil terjemahan Marianne Katoppo. Padahal novel ini sudah cetak ulang. Tapi, karena Lapar menjadi salah satu buku yang membuat Eka Kurniawan berhasrat menjadi penulis, saya tetap membaca dan berusaha menikmatinya. Meski dalam tingkat tidak kreatif. Atau bisa dikatakan saya belum bisa mengulas apa yang sudah saya baca untuk dibagikan di blog ini.

Kamis, 09 Oktober 2014

Proses Kreatif

Bagaimana jika ide-ide cerita, baik itu cerpen maupun novel, dirangkum menjadi sebuah novel? Maksud saya adalah menulis novel tentang penulis yang mempunyai banyak ide cerita, sehingga bisa disebut sebagai sebuah kumpulan ide cerita. Beberapa jam yang lalu ketika di toilet sempat terlintas pikiran semacam itu. Tapi apa boleh buat, saya belum bisa mewujudkan ide itu menjadi sebuah novel. Lha wong saya masih belajar.

Beberapa hari yang lalu saya sudah menyusun buku-buku saya lagi berdasarkan tahun terbitnya. Kebanyakan dari penulis yang mendapatkan penghargaan nobel sastra. Saya memulainya dengan membaca Catatan Harian Adam dan Hawa karya Mark Twain terjemahan Eka Kurniawan. Maklumlah saya belum bisa menikmati buku-buku berbahasa asing itu. Namun untuk menjadi penulis tentunya saya harus banyak baca buku sastra yang bagus. Sementara ini penilaian saya tentang buku sastra yang bagus berasal dari para penulis yang tulisannya membuat saya tertarik dan berimajinasi seandainya saya yang menulis karya-karya mereka. Saya, lagi-lagi, belum bisa menilai berdasarkan teknik atau apalah istilahnya tentang buku-buku itu. Tentu saja itu karena kebegoan saya semasa kuliah yang nggak mau atau memang nggak tahu atau malas baca buku-buku yang dilabeli sastra.

Malam ini saya belajar menulis cerpen (lagi). Sambil berpikir ide cerita mana yang lebih dulu saya garap untuk dijadikan novel debut. Tapi saya ingin menerbitkan kumpulan cerpen lebih dulu saja.

Senin, 06 Oktober 2014

Selamat Datang, Sayang!

Ini bukan blog pertama. Sudah banyak blog yang nggak ketulungan nasibnya. Kenapa saya beri judul Narasi Hidup? Saya berharap hidup saya penuh narasi yang bisa saya jadikan cerita. Selain itu juga akan diisi ulasan sederhana tentang buku yang saya baca dan yang saya tulis.